Sejarah Masyarakat Samin

Posted: 20 May 2011 in Sejarah
Tags: ,
Masyarakat SaminBlora, kota kecil yang menyimpan sejarah Samin, “mungkin” sering jadi bahan cemoohan. Desa Kelopo Duwur yang terletak di kecamatan Randu Blatung, tempat Masyarakat Samin tinggal, berpenduduk 4000 jiwa. Memiliki 6 dusun yang letaknya tidak berjauhan, yaitu Wot Rangkul, Klopo Duwur, Sumengko, Sale, Badong Geneng, dan Badong Kidul. Menurut Kepala Desa Klopo Duwur Setyo Agus Widodo, masyarakat Klopo Duwur berprofesi juga sebagai wirausaha dan pegawai negeri namun kebanyakan masyarakatnya tetap bekerja sebagai petani atau buruh tani.

Seiring dengan arus modernitas mereka mulai terbuka terhadap informasi-informasi yang masuk. TV, radio, tape, menghiasi rumah mereka. Kartono, kepala dusun Kelopo Duwur saat ditemui mengatakan bahwa untuk mensosialisasikan informasi dari luar, mereka melakukannya lewat musyawarah-musyawarah desa.

Masyarakat Samin berkembang dan tumbuh di Kelopo Duwur adalah salah satu bentuk perlawanan sikap untuk tidak mau membayar pajak kepada pemerintah Belanda. Demikian ujar Mbah Kromo Taliman, salah seorang penganut saminisme yang masih hidup.

Saminisme sangat tertutup dalam hidupnya. Mereka tidak mudah percaya kepada orang lain yang dianggap asing. Mereka lebih percaya pada diri sendiri dan pemerintah. Bentuk-bentuk perlawanan yang sering diimplementasikan orang dengan mbangkang, nggendeng nyangkak adalah wujud dari bentuk perlawanan tanpa kekerasan

Sekitar tahun 1890, saminisme pertama kali disebarkan oleh Samin Surosentiko, seorang pangeran. Nama Samin adalah nama samaran dari Raden Kohar bangsawan, guru kebatinan yang mempunyai nama samaran Suro Kuncung menurut serat punjer kawitan. Ia menghimpun kekuatan melawan kolonialisme Belanda dengan pergerakan rakyat anti kekerasan. Raden kohar adalah salah satu dari lima bersaudara putra Raden Surowijaya, sesepuh samin.

Nggendeng (pura-pura gila) sering dilakukan oleh Prabu Puntadewa dalam menghadapi musuh-musuhnya. Saripan Sadi Hutomo dalam Basis, Januari 1985 menuliskan, di samping melakukan perlawanan, Samin Suro Sentiko juga mengajarkan untuk bagaimana berperilaku di dunia dan di akhirat yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Dengan format gerakan tersebut, Belanda akhirnya bersikap tegas. Tanggal satu maret 1907 Belanda menghambat gerakan samin dengan melakukan penangkapan. Aktivitas orang-orang samin di Kedung Tubanpun tercium oleh Belanda ketika orang-orang samin tengah melakukan selamatan.

Belanda lalu melumpuhkan aktivitas-aktivitas orang-orang samin termasuk delapan pengikut Samin Suro Sentiko. Delapan murid setia samin surosentiko tersebut kemudian dibuang di luar Jawa yaitu di Ceylon(Sailon). sedangkan penangkapan Samin Surosentiko dilakukan setelah dia menerima panggilan Bupati Rembang dan dibuang bersama-sama dengan delapan muridnya.

Namun, penangkapan dan pembuangan tersebut tidak menyurutkan perjuangan orang-orang Samin. Mereka tetap melakukan perlawanan-perlawanan terhadap Belada dan menyebarkan ajarannya.

Menilik sejarah samin yang konsisten dalam perjuangannya perlu sekali untuk dicontoh. Adat samin seperti berjiwa nasionalis, sense of social yang tinggi, kegotong-royongan yang kental sangat dirasakan sampai sekarang . Jadi kalau kata “Samin” dijadikan sebagai hujatan atau umpatan sangatlah keterlaluan.

Sekilas Tentang Samin

Samin. Kata itu erat kaitannya dengan nama Ki Samin Surosentiko, leluhur masyarakat Samin, yang lahir sekitar th 1859 di daerah Randublatung, Blora (Jateng). Ia bangsawan yang punya kepedulian begitu besar pada rakyat jelata. Samin adalah Robin Hood yang gemar menjarah harta orang-orang Belanda dan lintah darat, untuk dibagikan kepada masyarakat bawah.

Konon, tahun 1905 pengikut Samin mencapai 5.000 orang, tersebar di wilayah Bojonegoro, Madiun, Ngawi (Jatim), Blora, Pati, Kudus, dan Grobogan (Jateng). Jepang sendiri masuk di Kec Margomulyo, kecamatan terpencil di Kab Bojonegoro.

Hidup mereka berpegang pada Jamus Kalimasada, sebuah kitab geguritan (puisi) dan gancaran (prosa) bahasa Jawa, yang intinya berisi ajaran pengendalian diri. Pengikut Samin akan menjadi manusia paripurna bila mampu menjalani hidup dengan pasrah, sabar, dan menerima apa adanya. Itulah sebabnya mereka mengisolasi diri di tengah hutan, eksklusif, tak mau banyak berhubungan dengan orang luar, terutama (saat itu) kaum penjajah.

Termasuk ajaran Saminisme, pertama, aja drengki srei, tukar padu, dahwen kemeren, kutil jumput, lan mbedhog colong. Artinya, jangan berhati jahat, bertengkar, iri hati, dan mencuri. Kedua, pangucap saka lima bundhelane ana pitu, lan pangucap saka sanga bundhelane ana pitu. Maksudnya, perkataan dari angka lima ikatannya ada tujuh, dan perkataan dari angka sembilan ikatannya ada tujuh. Maksud simbol itu agar manusia memelihara mulut dari tutur kata tak berguna dan menyakiti hati. Ketiga, lakonana sabar atau jalani hidup dengan sabar.

Orang Samin juga punya acuan figur bernama Puntadewa. Raja Amarta di dunia pewayangan merupakan tipikal orang sabar, jujur, pantang berbohong, selalu berkata apa adanya. Tak mengherankan bila hingga saat ini wayang kulit masih menjadi tontonan favorit di Jepang.

Ajaran yang disebut sebagai “Agama Adam” di atas sangat berpengaruh pada pola hidup sehari-hari masyarakat Samin. Dalam hal mata pencaharian misalnya, mereka hanya menggeluti pekerjaan petani, penggembala sapi atau kambing, atau sesekali nyambi sebagai tukang ojek.

“Semua penduduk berprofesi petani. Hanya satu orang yang pegawai negeri,” kata Sukijan (39), Kepala Dusun Jepang.

Pekerjaan pedagang, yang kadangkala perlu trik atau berbohong, dijauhi orang Samin. Karena itulah di Jepang tak ada warung. Umpatan, sumpah serapah, hujatan, dan kata-kata yang menyakitkan, juga jarang terlontar dari mulut mereka. Ngerumpi pun jarang dijumpai di sana.

Sewaktu zaman penjajahan, mereka benci setengah mati pada wong Londo (bangsa Belanda). Itu antara lain dilakukan dengan menebang kayu jati seenaknya dan menolak bayar pajak. “Kami yang menanam kayu itu”; atau “Tanah ini dibuat Pangeran (Tuhan), bukan manusia,” demikian alasannya.

Kebiasaan tak bayar pajak sempat bertahan sampai Indonesia merdeka. Pasalnya, masyarakat Samin tak tahu kalau penjajahan telah berakhir. Baru ketika Surokerto Kamidin (generasi penerus Ki Samin) menghadap Bung Karno, tahu bahwa wong Jowo wis dipimpin wong Jowo (orang Jawa telah dipimpin orang Jawa). Sejak saat itu, mereka taat kepada pemerintah yang dianggap bangsa sendiri.

Namun logika khas Samin masih sering membuat aparat geleng-geleng kepala. Misalnya yang dilakukan Hardjo Kardi (60), sesepuh Samin Jepang. Ia pernah diinterogasi polisi hutan gara-gara rumah miliknya dibangun dari kayu curian. Ketika rumah itu akan disita, cucu Samin Surosentiko ini enteng menjawab, “Boleh disita, tapi berikan pada kami.”

Petugas pusing juga. Rumah itu akan dirobohkan. “Boleh, tapi semua rumah harus dirobohkan, termasuk milik Pak Presiden,” jawab Hardjo lagi. Tak urung, petugas pun mundur teratur.

Perubahan

Lokasi yang terpencil menyebabkan Jepang begitu lambat berkembang. Pedusunan yang kini berpenduduk 600 jiwa itu terletak sekitar 65 km arah barat daya Bojonegoro, tepatnya 5 km dari ruas jalan Cepu (Jateng) dan Ngawi (Jatim). Sejauh mata memandang, yang terbentang hanyalah pepohonan jati atau kembili (Dioscorea aculeata), berdiri kokoh di atas tanah kapur-tandus yang sungguh tidak bersahabat dengan tanaman jenis lain.

Ojek menjadi sarana transportasi paling efektif. Ongkosnya Rp 3.000,-. Tetapi kalau hujan, ban sepeda motor biasanya sulit berputar karena tanahnya begitu liat. Ongkosnya menjadi dua kali lipat. Jalan kaki akhirnya menjadi solusi yang paling tepat. Tapi warga Jepang sendiri lebih suka menempuhnya dengan jalan kaki. Makan waktu sejam.

Lumayan melelahkan dan membuat perut lapar. Dan kondisi ini dimanfaatkan Isman (50), warga Kalimojo (sebelah utara Jepang) untuk buka warung di sekitar km 2,5. Kenapa bukan orang Jepang yang buka warung? “Itu tidak sesuai dengan ajaran Ki Samin,” jelas Miran (33), tokoh pemuda Jepang.

Hingga saat ini, kalangan tua di Jepang memang masih sangat kuat memegang Saminisme. Dari segi keyakinan misalnya, meski dalam KTP tertera agama Islam, mereka belum melaksanakan amal ibadah sebagaimana mestinya. “Kalangan tua yang shalat hanya 10%,” tutur M Miran (33) yang juga Takmir Masjid Al Huda Jepang.

Dalam hal pakaian juga masih khas: memakai celana kolor-kombor-hitam, plus sarung. Kalangan tua seakan belum terasa sreg memakai celana panjang. Ini pula yang membedakan mereka dengan warga kampung lain.

Ciri lain yang masih tampak adalah arsitektur rumah. Dari sekitar 150 rumah yang ada, hampir semuanya berbentuk memanjang dengan pintu di samping. Ruangannya begitu luas dan lengang, saking sedikitnya perabotan yang ada. Dindingnya kayu, namun ada pula yang hanya kulit jati. Semua rumah sudah beratap genting, hal yang sulit ditemui sampai akhir 80-an lalu. Tetapi rumah tembok belum bisa dijumpai di Jepang. Hanya ada empat rumah berdinding batu bata, itu pun semi permanen. Pertanda betapa tingkat ekonominya masih begitu rendah.

Syukur sekarang generasi mudanya lebih terbuka. Faktor pendidikan dan pergaulan yang sudah semakin luas menyebabkan mereka lebih terbuka. Satu lagi, peran Islam yang membuat generasi muda Samin lebih dinamis. Sikap sabar, jujur, tak mau melukai hati orang lain yang terintegrasi dalam ajaran Saminisme, menjadi kian mengkilap akibat polesan lembut ajaran Islam. Jika kenakalan remaja di kampung lain menjadi hal yang lumrah, di Jepang bisa dibilang nol.

Sikap nonkooperatif kepada pemerintah pun tak ada lagi. Mereka tak pernah telat bayar pajak, meskipun kondisi ekonomi demikian sesak. Dulu mereka juga tak mau menikah di KUA, cukup disaksikan kerabat dan jadilah keluarga. Setelah diuber-uber petugas, baru mendaftar. Kini sebaliknya. Karena begitu taat, mereka tak mau kumpul layaknya suami/istri apabila belum tercatat di KUA, meskipun pernikahannya telah direstui.

Pemerintah daerah setempat juga memberi perhatian lebih kepada komunitas terpencil ini. “Mereka memang harus didorong, diberi motivasi. Kalau dibiarkan begitu saja ya susah,” ujar Drs Sulistyo, Camat Margomulyo.

Sejak tiga bulan lalu jalan menuju Jepang sudah halus, meski hanya berupa taburan pasir. Bila terguyur hujan, tetap saja lengket dan licin. Tapi paling tidak isolasi yang membelenggu Samin mulai tersibak.

Kabar gembira terakhir, Pemda Tk II Bojonegoro telah membangun pesanggrahan Samin. Bangunan yang diresmikan 9 Juli lalu itu hendak difungsikan sebagai tempat penelitian budaya Samin. Di sini tersedia data tentang sejarah dan karakteristik kulturnya. “Selama ini banyak penelitian ke Jepang, mahasiswa atau ilmuwan. Kami belum bisa menyambut dengan baik. Dengan pesanggrahan itu diharapkan aktivitas peneliti bisa lebih tenang,” ujar Sulistyo.

Sinar listrik, insya Allah tinggal selangkah lagi. Tiang-tiang telah terpancang setahun lalu. Sayang, terhantam krismon. Tiang listrik itupun dimanfaatkan warga Jepang untuk penangkar burung perkutut.

Perubahan seperti itulah yang menyebabkan masyarakat Samin seakan berontak bila tetap “divonis” terbelakang dan terisolir. Mereka berupaya melepaskan diri dari belenggu asumsi yang telanjur berkembang selama ini. “Saya ini ya Samin, tapi kan tidak beda dengan masyarakat lainnya kan Mas?” protes Bambang (23), seorang pemuda Jepang.

Hari merayap senja. Sahid segera beranjak dari Jepang. Jalan yang sudah halus di dusun itu menyebabkan getaran ojek tak begitu terasa. Ya, Samin memang tengah terjaga dari tidur panjangnya.

About these ads
Comments
  1. bautinja says:

    makasih udh menambah wawasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s